Minggu, 30 Juni 2013

Seoul Good For Your Soul



Welcome to Seoul!

Day 1
Seoul. YEAAYYYYY!!!!! Kimchi, SNSD, Teddy Bear Musseum, make up, shopping, you named it! But is it that interesting as seen on tv? Bermodalkan kosa kata Anyongaseo (Halo), Kansahamida (Maaf), Ahjushi (Om), Ahjumma (Tante), Unnie (Mbak), Oppa (Mas) sama Saranghae (I love you) gue nekat ke kota ini. Berkat jatah tiket yang belum dipake, adanya hari kejepit + ijin satu hari, informasi yang bilang Seoul living costnya murah, sama rajinnya nonton Running Man dan film drama lainnya, berangkatlah gue ke sana dari tanggal 5 sampe 9 Juni.

Tadinya mau berangkat bareng Yuzi, tapi dianya UAS tanggal 10. I almost that close untuk bikin sayembara siapa yang mau nemenin ke Seoul. Tapi yaudah, berangkat sendiri aja. Jaga-jaga juga sih minta tolong mas Bala buat ngehubungin kalo ada temennya yang lagi di sana. Sempet hubungan sama kak Anton dan kak Eli via e-mail dan mereka baaaaaaik baaaangeeet!

Berangkat tanggal 5 Juni jam 23.20, dimulailah petulangan ini! Lama perjalanan 6 stengah jam, dan perbedaan waktu Jakarta dan Seoul itu 2 jam. Begitu landing jam 08.20 pemandangan di depan gue adalah pesawat Korean Air yang berjejer, ada mobil KIA kecil yang ngebantu pesawat untuk markirin, dan bandara yang gede banget. Begitu masuk ke bandara reaksi pertama gueadalah: Mbak Yoona ada di mana-mana.

Iya sih. Emang cantik banget.


Keluar dari imgrasi, hal pertama yang gue lakuin adalah hubungin kak Anton yang ngejemput gue di bandara. Kak Anton itu temen mas bala pas kuliah di FEUI, dan sekarang lagi ambil S2 di Jeonju University. Dia yang nemenin gue hari ini untuk keliling Seoul dan nginep di penginapan yang sama kaya gue biar gampang ke mana-mana. Jadi! Sambil nunggu kak Anton dateng, gue pergi ke sevel buat beli T-money. Di sana, T-money berfungsi sebagai alat pembayaran transportasi umum seperti subway, bus, juga di beberapa minimarket. Ada dua macem T-money, pembelian berupa deposit atau daily pass (1 day sampe 5 days kalo gak salah yang khusus untuk para turis yang bisa digunain maksimal 20 kail transfer dalam satu hari). Fungsinya hampir sama kayak Flazz sih, jadi ada deposit money di dalemnya dan bisa digunain kapan pun. Untuk di bandara, pembelian awalnya 32.500 won (Rp 325.00). Rata-rata pembayaran trasnportasi sekali jalan sih 1.150 won (Rp 11.500) ke destinasi mana pun. Jadi kalo transfer sama jarak jauh-deket gak usah bayar lagi. Praktis!

Vending Machine tiket Subway


Jangan lupa ambil uang deposit subwaynya!


Seoul Station

Masih sambil nunggu juga, gue keliling bandara buat sightseeing aja. Dunkin Donuts, Tous le jours, sama Paris Baguette, e v e r y w h e r e ...... Jangan lupa buat datengin pusat informasinya buat minta peta Seoul sambil nanya festival yang lagi berlangsung, ya! Mata uang di sini adalah won, untuk kalkulasiinnya sih gampang aja. Setiap nominal, tambah 0 dibelakangnya. Jadi kayak 1.000 won berarti Rp 10.000. Dari bandara Incheon ke kota Seoul bisa di tempuh pake dua transportasi. Pertama bus 10.000 won dan subway. Untuk naik subway bisa naik kereta reg khusus ke bandara (5.000 won) turun di Seoul Station, dan lanjut ke tujuan berikutnya (1.150 won). Karena jauh lebih murah, abis ketemuan dan kenalan secara langsung sama kak Anton kita langsung cus naik subway.

Jongrogu, Hyehwa University.

Selama perjalanan ke tempat penginapan, mas Anton ngasih banyaaak banget informasi tentang Seoul. Kaya hari ini, Korea Selatan lagi libur untuk memperingati memorial day perang di negara mereka. Jadilah pas di subway dan transit di Seoul Station, banyaaaak banget cowok-cowok yang baru pulang wajib militer berkeliaran di mana-mana. Ya, mereka ganteng semua. Entah karena cetakannya, pakaiannya, atau dapet bonusnya begitu. Namanya juga manusia biasa kan ya. Perjalanannya sekitar satu stengah jam dan jalan sebentar sekitar 10 menit untuk bisa sampai di tempat penginapan. Nama tempatnya Backpacker Inside, lokasinya deket banget sama Hyehwa University. Jadi suasanya "hidup" sama tempat makanan, belanja make up, sama kebutuhan lainnya. Harga gimana? Untuk tipe dorm (Di sini antara cewek dan cowok tempatnya di pisah. Jadi buat yang cewek sendirian mau nginep, gak usah khawatir!) yang isinya 6 orang, 4 hari 3 malem  totalnya 4.800 won atau kalo diitung per harinya sekitar 1.600 won. Murah banget kaaan, apalagi high season begini. Dapet breakfast dan wi-fi gratis juga. Begitu selesai nata barang dan ganti baju, baru deh mulai perjalanannya. Ready? 

Hyehwa Station

Daerah sini banyaaak banget toko make-up, cafe, atau restoran di sepanjang jalan. Sekalian makan siang, melipir deh beli Topokki yang semacem kue beras terus ada saosnya (3.000 won) sama makan seriusnya Bibimbab sama Pajong. Bibimbab itu kayak nasi campur terus di aduk-aduk makannya, sedangkan Pajong kayak fuyung hai tapi isinya sayuran+seafood. Untuk tata cara makan di restaurant, kita mencet bel atau si penjaga restauran datengin kita dan pesen makanannya terus pembayarannya baru pas kita selesai makannya. Kurang lebih sama lah ya kayak di sini.

Hyehwa University




Masih sepi. Anak malem banget



Topokki sebelum dan sesudah



Sehat. Iyalah sayuran semua



Pajong seafood



Antara nangis bahagia sama kepedesan :")

Namsan Tower (Myeong-dong Station line 4, exit 3)

Begitu turun di Myeong-dong, perhatiin plang di atasnya buat nemu exit 3. Pas keluar, ambil jalan besar di sebelah 711 dan jalan terus di samping kiri Pasific Hotel sampe ketemu plang Mt. Namsan. Ke atasnya bisa pake cable car (8.000 won) atau naik bis (900 won). Cuma pas browsing dapetnya yg edisi cable car, jadinya.... gitu deh. Bagitu nyampe di atas pengunjungnya lagi rameee banget, ya mungkin karena lagi libur tadi. Udaranya sejuk, viewnya juga cantik bangett, terus kalo haus gak usah sedih, banyak vending machine sama toko snacks kok di sana.

Korea banget ya....

Seoul City
Dateng-dateng disambut ini!


Untuk naik observasi (namsan towernya) sama Teddy Bear musseum, harus beli tiketnya dulu (14.000 udah termasuk keduanya). Setiap jalan ke tempat mana pun sama kak Anton, pasti dikasih tau informasi atau sejarah tentang tempatnya. Kalau belum tau pun, dia akan googling tempat ini dulu. Keren ya :" ) Kaya pas ke Teddy Bear musseum, boneka beruang yang jadi favorit anak-anak ini berawal dari orang yang suka banget berburu namanya Teddy. Suatu hari pas mau ngebidik, ternyata yang dia liat itu anaknya beruang. Dilepas lah bidikannya  dan dibiarin hidup. Berita ini kedengeran sampai ke seorang pembuat boneka yang berinisiatif ngasih kado ulang tahun si Teddy berupa boneka beruang yang dinamain Teddy's Bear. Semenjak itu namanya jadi Teddy Bear deh.

Untuk musiumnya sendiri menurut gue sih keren ya, mereka bisa ngemas sejarah tentang Korea Selatan dari dulu sampe sekarang dengan cara yang unik. Siapa sih yang nggak suka boneka beruang? Dipakein baju lucu gitu, detailnya juga bagus banget, semua orang pasti seneng dan tertarik untuk liat satu per satu sambil ngeliat sejarahnya di samping booth. Musiumnya sendiri di bagi jadi dua, yaitu Korsel jaman dulu dan masa kini. Kece maksimal!



Koinnya gemes

Boneka kanannya kepo

Nyari bahan buat skripsi

Belajar bareng...

Makan siang bareng...

Pose, chin up, tegap, fabulous. 


Maling cabe


"Gak usah peluk-peluk. Kita kan temenan"




Sungai Cheonggyeochon




Kak Anton, penyelamat selama di Seoul.

Cuteness overload!

Minta dibawa pulang...
...

Beruang di atas jadi tokoh utamanya!

Gatau artinya apa. Sweet aja tapinya
Ini juga lucu. Matching sama kuteks..

Jauh-jauh ke sini kan, nemunya ini juga ._.

"Gembok hati kamu buat aku, mas."

Kyopta!
Selesai dari Teddy Bear musseum, kita lanjut ke destinasi berikutnya. Sambil nyusun strategi ke sananya, kita juga ngobrol lagi. Kalau di Jakarta kan orang bule di kasih namanya Warga Negara Asing ya. Kalau di sini, orang asing di kasih sebutannya seadanya banget. Kaya di kartu ini:

Alien Card banget. Dari galaksi mana? Entah~
Myeong-dong (line 4)

Kalau mau beli makeup atau belanja semacem baju atau sepatu, di sini tempat yang pas. Harganya fixed dan lokasinya juga nyaman. Pennnnuuuh banget sama deretan toko branded, pusat belanja di Seoul, banyak food stall juga, sama orang juga. Nggak berenti nganga, seneng, tepuk tangan sendiri.

Rame banget orang-orangnya







Pegawai yang baik. Foto dulu ah...
Namsangol Village 

Kalau mau liat tempat tinggal asli orang korea dulu, di sini tempatnya. Beberapa waktu yang lalu tempat ini ada yang nempatin selama turun temurun, tapi karena satu lain hal mereka ninggalin dan jadi another tempat wisata deh. Tempatnya gedeee banget, ada panggung kecilnya sama teman duduk bertingkat.

Main Gate Namsangol Village

Ketemu susu pisaaang!



Salah satu rumah tradisionalnya
Cheonggyeochon

Pernah liat iklannya Seoul yang diisi sama SNSD+ Super Junior? Ada satu sungai di tengah kota yang bagus banget di situ, namanya Cheonggyeochon. Sambil jalan ke situ, kita bisa kewatin istana Gyeongbokgung dan patung King Sejong. King Sejong ini orang yang nemuin huruf yang di pake masyarakat Korea Selatan saat ini, yaitu Hangul. Di bagian bawah patungnya ada deretan huruf hangul yang dia ciptain.

MRT Seoul

Gyeongbokgung

Halo, King Sejong! *dadah dadah*


Main airrr

Throw a coin, and make a wish. 

#Np: John Legend - P.D.A

Di bawahnya sungai, atasnya deretan lampu gedung. Cantik!

Terus ada live musicnya. Makin romantis gak sih nih tempat...
Dari kak Anton juga, gue diceritain tentang sejarahnya sungai ini. Jadi, sebelumnya Seoul sama kaya negara-negara lainnya yang masih berkembang. Sempet dari daerah kumuh, mulai dibangunlah infrastruktur dari bangunan sampai jalan raya. Di tahun 2003 Gubernur saat itu, Lee Myung-Bak pingin mengurangi jalan layang dan mulai membangun aliran sungai di dalam kota. Pastinya banyak pro dan kotra dalam keputusan ini, secara di tengah kota juga, jalannya juga udah ada. Sejak taun 2005 resmi dibuka, tempat ini justru jadi kunjungan para wisata dan masyarakat di Seoul sendiri. Inisiatifnya pure dari gubernurnya sendiri, bukan presiden atau menteri yang lain. The key is, stick with what you believe and make a stand for it. Siapa yang nyangka juga sih hasilnya jadi cantiiiik banget! Oh, my mistake. Lee Myung-Bak pasti udah tau duluan hasilnya pasti bakal seindah ini : )


Kaya kali Ciliwung nggak sih?

Highway sebelumnya dan masa restorasi

Remind me of daerah Rawamangun.
Tur hari ini selesai dengan makan roti di Tom n Tom! Kak Anton bisa bernapas lega, sementara gue masih nikmatin cantiknya kota ini. Selesai mesen di kasirnya, kita dikasih gadget di bawah ini. Bisa buat nonton segala! Nanti kalo makanannya udah jadi, gadget ini bakal geter-geter gitu dan orderannya bisa diambil. Selangkah lebih maju dibanding kok atau mainan pencet-bunyi.

Ganteng mas, ganteng. 
(Bersambung...)


Rabu, 12 Juni 2013

First Step To Korea: The Visa.

Emang sih,dari dulu dan turun temurun banyak yang bilang sistem birokrasi kita hobi banget dibikin ribet. Kalo nggak, ada pungutan lah, prosesnya lama lah. Tapi dengan bantuan internet sama informasi yang bener, we're heading to something better kok. Asal emang harus cermat aja sama teliti.

Gitu juga sama mekanisme bikin visa untuk tujuan Korea Selatan. Susah? Enggak sama sekali! Asal semua berkas disiapin seusai yang dibutuhin aja, hasilnya pasti lebih cepet. Abis booking tiket pesawat, penginapan, Then, you're so ready to the next step: bikin visa. Perlengkapannya:

  1. Passpor yang berlaku maksimal 6 bulan dari tanggal kadaluarsa. Kalo ini pertama kalinya mau bikin passpor atau perpanjangan, bisa loh bikin lewat imigrasi online di situs ini. Jadi gak usah repot ngantri ngisi ebrkas bolak-balik gitu. Baru tau kan? Samaaaaa~
  2. Pas foto 4x6 background putih satu lembar. (Ada yang bilang dua lembar. Tapi pas gue kasih, mbaknya cuman minta satu aja. Kurang eye-catching kali ya.................)
  3. Rekening tabungan 3 bulan terakhir. Gak ada minimal saldo di sini.
  4. FC passpor
  5. FC Kartu Keluarga
  6. FC tiket pesawat PP
  7. FC hotel/tempat menginap
  8. Surat pengantar dari kantor yang menyatakan sebagai pegawai (minta ke bagian HRD aja) atau yang belum bekerja, bisa bikin surat sponsor orang tua.
  9. Aplikasi form yang bisa di unduh di sini.
  10. Uang untuk visa Rp 294.000
Gampang kan? Nah, untuk lokasinya itu ada di The Plaza (persis di atas Plaza Indonesia) lantai 30. Untuk pembuatannya butuh waktu 4 hari kerja.

Baiklah. Di post berikutnya, saya akan menceritakan pas di Seoulnya! Anyongaseoooo!

Selasa, 04 Juni 2013

Acceptance

Summarynya eye catching: 

"The line between unconditional love and unconditional acceptance."

So, what's the differences? 

Tema acaranya "Love, no matter what". Nama pembicaranya Andrew Solomon. Dia itu penulis di bidang pilitik, psikologi, sama budaya. Di awal pembicaraan dia langsung ngebahas tentang dinamika masyarakat ngehadepin situasi sekarang. LGBT sebagai contohnya. Diliat dari tanggepannya, dia ngebagi jadi dua tipe: keluarga vertikal dan keluarga horizontal. Keluarga vertikal adalah mereka yang turun temurun punya pola sama dan dilakuin terus menerus. Sedangkan yang kedua, keluarga horizontal. Mereka ini yang terus 'disadarkan' dan 'disembuhkan' sama keluarga vertikal untuk punya pola yang sama.

Keluarga horizontal ini percaya kalo setiap keturunan punya pola tersendiri. Mereka punya daya pikir yang liberal dan terbuka dengan hal baru. Contoh yang diambil sama Andrew itu keluarga gay,  keluarga yang punya anak autis dan atau berkebutuhan khusus. Poinnya di sini peran orang tua sebagai wadah, penjaga, dan motivator anak. 

Ngadepin situasi ini ada tiga macem acceptance yang harus dijalanin. Pertama, self acceptance. Mengetahui dan menyadari situasi dan kondisi ini, lalu menerimanya. Setelah diri sendiri, saatnya terbuka dengan orang terdekat atau family acceptance. Terakhir, yang paling sering menerima pro dan kontra, social acceptance. 

Tentang acceptance ini, sebenernya terjadi karena kita membuat suatu keputusan melalui tindakan, perilaku, atau bentuk lisan, yang berbeda dari biasanya. Tanggapannya pun juga beragam, dari yang ringan sampai ekstrim. Tindakan ini ada, karena manusia itu dinamis sedari kecil. Mencoba hal baru, trial and error, dan ngelakuin hal lain lagi. Sering kali anak yang mencoba hal baru, berbeda dari kebanyakan masyarakat, mereka ditentang oleh keluarga, sehingga mereka merasa tidak dicintai. Padahal yang terjadi, adalah mereka tidak menerima.

Cinta itu datang secara natural antara orang tua ke anak. Sedangkan acceptance, atau menerima, sesuatu yang membutuhkan... Waktu.

Contohnya keluarga dengan anak down syndrome. It comes naturally for them to love their own child. Untuk menerima kondisi anak untuk kedepannya, itu butuh proses. Somehow, mereka punya keyakinan dan kepercayaan untuk mencintai, menjaga, juga percaya bahwa anak yang diberikan ini spesial. Spesial dari diri anak itu sendiri dan juga dampaknya untuk keluarga lain. Mereka yang membuat organisasi, komunitas, atau fasilitas untuk down syndrome yang terinapirasi unutk kemudahan anaknya. Sehingga nggak hanya memudahkan dia, tapi seluruh keluarga lain. Once they said they wish their child didn't have autism, or in sort of I wish my child didn't exist, it means we eliminate the possibiliaties that comes up throught the situation.

Such a great sharing. Ada dua point yang gue garis besari di sini. First, negotiating difference in your family, despite of addressing what people say about your family. Second, pas Andrew memutuskan untuk punya anak dengan pasangan gaynya. Orang2 bilang hal ini ke dia:

"How come you decide to have a child, in the middle studying when everything could go wrong?"

Dan Andrew menjawab: 

"I'm not studying everything's could go wrong, but finding how much that love can be even in everything's appear going wrong."

Have a great Sunday! 

Sabtu, 01 Juni 2013

Negeri Di Awan



Told you before, I'm having my sweet escape to see my sunshine in Mount Bromo (East Java)! Ada dramanya sih, sedikit. Pesawat delay 3 jam, cari tiket buat pesawat berikutnya yang which is udah 30 menit sebelum keberangkatan, sampe kelimpungan nyari charter mobil buat ke Pasuruan. But it was fun! Ketemu temen papa yang baaaiiknyaaa minta ampun, driver ke Pasuruan yang lucu banget, ketemu Mbata, Rani, Mbada, Ranti, papa mama Mbata, keluarganya, makanannya enak banget lagi, pemandangannya, mataharinya, moodnya, semuanya!

Reaksi pertama setelah turun liat matahari terbit menuju Ranu Pane, terus ada hamparan awan dan gunung Bromo sama Semeru di depan mata, gue cuma bisa bengong dan gak abis-abisnya buat ngagumin. Cantik cantik cantik banget :" ) 

































































Nggak lengkap kalo ke hamparan savana tapi gak foto loncat. Jadi... kami mencobanya. Cuma ini hasil terbaik kami.


We tried.

 Itu artinya kami harus kembali lagi kan? Siapa tau langsung ke ujung sana di Mahameru. Amin.