Sabtu, 11 Oktober 2014

Ring-ring!



"Sometimes fate is like a small sandstorm that keeps changing directions. You change direction but the sandstorm chases you. You turn again, but the storm adjusts. Over and over you play this out, like some ominous dance with death just before dawn. Why? Because this storm isn't something that blew in from far away, something that has nothing to do with you. This storm is you. Something inside of you. So all you can do is give in to it, step right inside the storm, closing your eyes and plugging up your ears so the sand doesn't get in, and walk through it, step by step. There's no sun there, no moon, no direction, no sense of time. Just fine white sand swirling up into the sky like pulverized bones. That's the kind of sandstorm you need to imagine."

Haruki Murakami - Kafka On The Shore

Rabu, 08 Oktober 2014

Tightrope





Pekerjaan ini ternyata meminta effort luar biasa besar dari yang gue kira. Tidak, Hayati bukan sedang lelah, bang. Justru bersemangat! 

Ngasih sedikit gambaran dulu, boleh ya? Well, our primary duty is to ensure the flight is safe, secure, and give the best servive to passengers. Semua bekal pun juga sudah disiapin dari training dan terus belajar sampai kita di dalam kabin. Tempat yang berbeda, penumpang yang beragam, juga tim yang selalu berubah di setiap perjalanannya, membuat kita diminta untuk fleksibel. Karena rutinitas yang berganti terus menerus, saya pernah ada di satu titik di mana mati rasa dengan perasaan perubahan itu sendiri. Memang, pattern kerja akan selalu sama. Cuma apa yang dihadapi selalu berubah. Sehingga yang namanya hal baru menjadi... Sebuah zona nyaman. Bisa dibayangin ga? Yang harusnya itu ngebuat kamu deg-degan, penasaran, dan semangat, malah jadi biasa.

Ya, saya kehilangan rasa bersenang-senang di sini. Dan itu ga enak :( Sampai akhirnya bangun di suatu pagi untuk siap-siap tapi ngeluh cape sisa kerja kemarin, and I choose to stop and asking to my self instead: "Bukannya ini yang kamu mau?" 

Ternyata saya sedang menjadi manusia normal lainnya. Kaga puas-puas. Dimulai hari itu (dan beberapa hari kemudian yang masih ga rela lepas dari kasur) saya memilih cara yang berbeda. Dari pemikiran main aman dan mendambakan penerbangan yang sempurna (yang justru berakhir dengan tekanan batin sendiri), diganti menjadi whatever will be, will be! Dengan tambahan ngasih apapun yang saya punya, berkomitmen, dan have fun (tapi anggun)! 

Some of you might think why should I take this job seriously, while the others like: "Yaelah mbak, rajin amat." Karena... Pekerjaan ini begitu digelimpangi kemudahan dan nikmat. Jadi akan jauuuh lebih mudah untuk ngeluh karena mobil jemputan telat atau dapet parkir pesawat di Remote Area (yang dimana justru seruuu, bisa liat banyak pecawaat), dibandingin take everything seriously and learn from it instead. Kita bisa milih kok antara liat sesuatu sebagai problem atau challenge. Kalau suatu hari pun kita ketemu di kabin, mungkin saya nyaru sama mbak-mbak yang lain. Tapi yang ngebuat saya beda, I learn something from this flight. I learn something from you. Bukan tentang taktik aja, tapi juga secara emosional. 

Have a great day! 

Selasa, 09 September 2014

Silent Sigh

Bahwa sesungguhnya, gue lelah untuk denger Indonesia dibandingin sama negara lain.

Ya dari wisata lah, transportasi, pemerintah, masyarakat, sampe kotak sampah aja sampe dibandingin. Setelah apa yang udah dijalanin pun, kata "Indonesia itu kaya banget..." Hampir ga bernyawa kalau dilafalin. Karena memang sebenernya, cara terbaik untuk menikmati yang di depan mata, adalah dengan tidak membandingkan dengan apa pun.

Kamu hanya perlu diam, menikmati apa yang di depan mata, lalu rekam baik-baik setiap detiknya.

Timika, 2014

Ternate, 2014

Banjarmasin, 2014

Biak, 2014

Ngutip dari The Secret Life of Walter Mitty, boleh ya?

"Beautiful things don't ask for attention."




Good night! 







Rabu, 18 Juni 2014

Krik... Krik...

Setiap hari penuh dengan kejutan.


P: Ade tinggal di mana?

B: Jakarta, pak. Bapak asli sini?

P: Abang asli Jayapura. Ke sini (Merauke) hanya untuk urusan saja.

B: Wah sibuk ya, pak...

P: Jangan panggil bapak. Abang saja biar akrab.

B: ... Baik, bang. 

P: Ade ada pin bb?

B: ... Nggak punya bb saya.

P: Kalau nomor hp ade, boleh abang minta? 

B: Hapenya nomernya baru, belum inget....

P: Yah. Ngomong-ngomong, abang sedang single.

B: Oh begitu...

P: Tapi sekarang abang lagi nyari calon istri.

B: Wah...

P: Jadi, gimana cara abang ngehubungin ade? 


PAPAAAAAAAAAAAAH

Selasa, 10 Juni 2014

Lean In


Gak bakalan gue lupa hari itu. Belum juga ada sebulan kerja di majalah franchise internasional satu ini dan gue udah mikir buat nyerah.

Gimana enggak?

Ritme kerja yang gila banget, tiap hari gue 'dipaksa' buat ngeluarin ide, ngejar sana-sini yang nggak ada abisnya, nggak dikasih waktu sedikit pun buat napas! Di kantor udah kebingungan sendiri, cape di jalan juga ngejar kendaraan umum, nyampe rumah pun pas tidur mimpinya tentang kerjaan. Gue hampir nyerah. 

Beberapa bulan itu kondisi di mana gue harus ke luar sejauh-jauhnya dari zona nyaman gue. Deg-degan di setiap harinya. Buat kesalahan juga ga sekali-dua kali. Gak berenti di situ, gue dipacu buat lebih 'liar' lagi buat nyari ide. Bener-bener gak enak. Sangat gak enak. Dan gue tiba-tiba ngerasa... Nggak pantes ada di sini. Gue sampe di tempat di mana.... Yaudahlah, jalanin aja. Pasrah. Seterah deh itu hasilnya gimana, udah hampir tewas ngerjainnya.

Lalu tiba-tiba gue, Keken, Kanta, disuruh translate satu artikel tentang suplemen career. Seperti biasa, gue fokus aja buat ngerjain apa yang di depan. Sampe begitu gue sadar... Ternyata baca artikel ini kaya lagi... Ditampar. 

Judulnya Lean In, wawancara eksklusif Sheryl Sandberg, wanita pertama yang ada di jejeran petinggi Facebook. Di artikel itu, dia ngejawab semua kekhawatiran, ketakutan, dan cukup ngegambarin tentang keadaan sekarang. Di sini, dia justru nantangin apa yang selama ini kita pikir kita percaya. Di sini, kita diajak untuk mempertanyakan kembali ketakutan kita. 
What would I do if I weren't afraid? 

Banyak. Ternyata banyak banget hal yang bisa dilakuin! Dan entah kenapa, gue justru kangen lagi waktu di mana terus dipacu buat terus eksplor diri. Di mana harus deg-degan, was-was, geregetan, sampe gabisa tidur. Kangen, buat tau seberapa jauh gue bisa pergi...

(Artikel aslinya, bisa di klik di sini http://www.cosmopolitan.com/advice/work-money/sheryl-sandberg-lean-in-book-excerpt )

Selasa, 20 Mei 2014

Downloading...

... the new version of Bani.

Kaga lah. Canda.


Jadi gimana, kehidupan beberapa minggu ini? Alhamdulillah baiik. Cuma... Apa ya? Mungkin sekarang lagi masa adaptasi sama dunia baru, lingkungan baru, kerjaan baru. Cara pandang sama kebiasaan pun berubah drastis. Iya, se-eks-trim itu. Mulai dari pagi jadi malem - malem jadi siang. Ritme kerja yang kadang bikin bengong sendiri sangking cepetnya. Gejolak sama warna orang yang bedaaaa- beda banget di setiap waktunya.

Di satu sisi, ini yang saya mau, namun di sisi lain saya juga ngeliat tantangan baru. Nggak nyangka bakal se adu silat gini juga sih.

Beberapa waktu lalu kangen banget nulis sebenernya, kangen banget. Tempat dan waktu di mana semua tulisan ngalir apaadanya, tanpa harus mikirin ini bener atau salah. Tapi mungkin karena tahap adaptasi di kerjaan, sahabat satu per satu udah mulai hengkang luar kota buat ngejar cita-cita mereka, ada juga yang mulai masuk ke tahap hidup mereka dengan komitmen untuk menikah, semuanya ada dalam satu waktu yang sama. Mendadak mellow dan mendadak mempertanyakan semuanya.

Jadi gini ya, rasanya jadi dewasa. Bukan dewasa ding, tumbuh menjadi orang dewasa. Mulai ke luar dari zona nyaman kita, ngejar apa yang kita mau, lalu mempertahankannya. Sebenernya tau, tau itu yang pasti dilakuin sama setiap orang saat selesai dari masa studi mereka. Cuma... Nggak nyangka aja bakalan secepet ini. Masing-masing punya jalan yang dipinginin, jadi takut lupa untuk menjaga apa yang udah dibangun pas kita masih, katakanlah, muda dulu. Seperti... sahabat dan keluarga, mungkin? Atau hobi? Mereka yang tau dan ada di setiap proses perjalanan, jadi ada batas buat ngeraih mereka.

Bentar, did I say "muda"?
Demi Tuhaaaaaan, umur situ juga masih bawang kali sist.

Lalu... Di sinilah saya sekarang, nyoba buat nyeimbangin keduanya. Antara work life dan social life. Agak rentan masuk angin sih badannya, but I'll find my own way. Ada juga buat nyeimbangin antara persepsi orang-orang tentang satu hal, yang kayanya udah jadi pengetahuan umum untuk yang bersangkutan, dengan sudut pandang sendiri. Bisa diliat dari dua sisi sih, jadi informasi atau justru jadi asumsi. Tapi sedih nggak sih kalau kita kenal orang secara menyeluruh karena persepsi orang lain, instead of ngeliat sendiri warna mereka? Jadi ilang satu hal yang penting dalam kehidupan sehari-hari. Memanusiakan manusia.

Anyway, have a great day!

Jumat, 09 Mei 2014

Thank You For Coming

Hari ini, aku dikunjungi mama. 

Sepertinya beliau tau, hari ini hari pertama aku menerima gaji. Jadi kami melihat layar mesin itu sebentar, mengucap syukur, lalu dia berkata sambil tersenyum:

"Zakat."

God, I miss you, ma : )