Selasa, 26 Oktober 2021

Satu Langkah Kecil Menjadi Dewasa

Beberapa blog lalu suasanya terlihat murung ya? Hmm mungkin tanpa sadar, dengan berjalannya pandemi sampai sekarang dan banyak banget denger berita sedih maupun duka, nggak tertolong lagi alam bawah sadar minta dilepasin rasa murungnya. Huw. 

 

Anyway, sekarang situasi perlahan berangsur membaik. Angka positivity rate sudah mulai menurun, ngiung-ngiung ambulans sudah jarang terdengar, toa masjid yang ngumumin Innalillahi udah nggak terdengar lagi. Kita udah mulai boleh kumpul-kumpul dan sejauh ini masih cukup terkendali soal pakai masker dan keramaian. Mungkin banyak dari kita yang udah ngerasain gimana ga enaknya kena covid dan mengubah kesehariannya. Lalu kemarin ini, berkesampatan ngumpul bareng deh sama temen sma (hedith, ditha, dan herny). 

 

Seperti biasa, kita ngobrol ngalor ngidul tentang kabar, keseharian, keluarga dan sebagainya sebagai pemanasan. Kita tau percakapan berjalan lancar ketika udah masuk ngomongin daftar panjang mantan ditha pas sma. Kayak, beneran panjang banget dan kita harus saling ingetin ini yang mana dengan deskripsi kejadian aneh-anehnya aja gitu. Kayak, “mantan ditha yang X, yang pernah nembak sambil gigit bunga mawar!” atau “ih, cowok Y yang pernah ngeboncengin ditha di lampu merah permata ijo, terus digepin sama pacarnya ditha yang C di tengah jalan gara-gara kuteknya gonjreng!”. Lo, akan hidup dengan memori itu diotak kita tha. Luv u. 

 

Setelah sesi kuis mantan ditha yang mana selesai, baru kita ke topik geng pas SMA. Off course ada beberapa kejadian yang selalu jadi inti masa SMA kita. Tapi pas pertemuan kemarin, pembahasannya lebih mendalam dan gue nyadarin satu hal penting yang mungkin mempengaruhi kehidupan sosial kami. Biasalah, pas SMA pasti kita nge-geng. Pada saat itu, kita punya 1 geng dengan 13 anggota. Dalem hati, lu bikin pertemanan apa klub bola tong? Dan di pertemuan itu, gue diingetin lagi kalo kita tuh sempet ada geng di dalem geng yang ngebuat kita pecah dan ga bareng lagi. Di sini menariknya. 

 

Di umur 16, kita terbiasa untuk ngelakuin hal berdasarkan insting, secara impulsif, dan beraniMasih ada besok, apa sih yang ditakutin? Jadi ketika gue dikasih tau ada geng di dalem geng, yaa udah mau gimana lagi. Udah ada gerak-gerik saling ngehindar dan jaga jarak, jadi buat apa dikejar. Tapi terus memori gue nge-recall. Instead of ngebiarin mereka ngehilang dan bersikap kayak ngaak ada apa-apa, kita (gue lupa siapa yang inisiatif duluan), justru kumpul ber-13 di rumah hedith dan ngomongin masalah ini bareng-bareng. Intinya, mereka nggak suka kalo tiap istirahat dipaksa untuk harus kumpul bareng di depan salah satu kelas (menurut pemikiran gue juga, ngapain juga yak) dan kalo absen besokannya disindir. Masuk akal alasan mereka. Jadi yang kita lakuin pada sore itu, kita setuju untuk bubaran dan saling peluk-pelukan. Besokannya dan hari-hari berikutnya, hubungan kita jauh lebih baik dan sehat dari sebelumnya.

 

Gue mau apresiasi diri sendiri sama sahabat-sahabat gue pada saat itu. Kita semua masih muda, ada masalah dengan kelompok, dan kita bisa nyelesaiin dengan bicara baik-baik dan move on dari kejadian itu. Gila, orang dewasa aja belum tentu bisa ngelakuin hal itu. Mungkin ini jadi tahapan pembelajaran gue bahwa, kalo ada konflik tuh bisa loh diselesaiin dengan baik-baik. Semua pihak berkenan untuk saling mendengarkan, menyuarakan, dan menghargai apa yang dilakukan. Setelah keputusan sudah dibuat, bertanggung jawablah dan move on. Gue bersyukur banget di masa muda itu bisa bertemu dengan orang-orang yang bisa ngebuat masa dewasa gue sedikit lebih menenangkan. Gue ternyata bisa nyelesaiin satu masalah besar tanpa harus memutus silahturahmi yang lain. 

 

Gue beruntung, lingkungan membawa gue ke tempat yang baik dan orang di sekitar cukup men-challengepemikiran untuk selalu berpikiran terbuka. Ini privilege, yang gue yakini dari doa yang dipanjatkan alm mama dan papa dari dulu. Gue berharap, naren juga diberi keberuntungan dan keberkahan untuk dikelilingi orang baik, yang bisa mengantarkan dia ke tempat yang lebih baik lagi. Sehingga dia cukup untuk mengenali dirinya, mengingat Allah dalam setiap tindakannya, serta bermanfaat bagi dirinya, orang di sekitarnya, dan lingkungannya. Amiin...

Sabtu, 11 September 2021

Beautiful Soul

 Saat berumur nanti, aku pingin kayak yangkung sutopo. Bayangin: Di suatu sore di kota Malang (atau kota mana pun yang sejuk dan udaranya seger banget!) kamu duduk di kursi teras sambil menunggu kopi hitam yang ada di sebelah mejamu tidak begitu panas. Kamu berdiri lalu menuju piano, kemudian melantunkan beberapa lagu untuk melatih kembali ingatanmu. Setelah dirasa cukup, kamu kembali pada kopimu lalu menghabiskannya, dan segera membersihkan halaman mungilmu agar kembali asri.

 

Di lain hari, kamu fokus menyelesaikan lukisan cat minyakmu yang rata-rata berisikan gambar bunga, sekumpulan orang bermain musik, atau pemandangan. Kalau pada sore itu kamu masih penuh energi, kamu akan menelpon teman-temanmu (yang jarak umurnya mungkin sepantaran anakmu) untuk bertemu di lapangan tennis dan memainkan permainan dengan santai. Atau ada hari di mana para tetangga melihatmu dengan vespa biru itu, sambil menenteng buah semangka di dalam tas jaring coklatmu, yang disangkutkan di bagian tengah motor. 

 

Yangkung, beneran deh. Pas masih kecil dulu, pemandangan ini terlihat sangat biasa dan nggak ada yang spesial. Tapi begitu aku beranjak dewasa dan melihat banyak hal, hal yang biasa ini jadi tujuan aku saat berumur nanti. Saat yangkung ke Jakarta, yangkung akan bergilir bermalam ke rumah anak-anak yangkung. Yangkung membuat teman baru di komplek tempat tinggal kami, untuk diajak olahraga tennis bareng. Yangkung membuat teman di mana pun yangkung berada. Mereka semua mengingat yangkung sebagai seorang yang hangat dan penuh energi. 

 

Yangkung nggak pernah banyak bicara, tapi dalam diamnya punya kemampuan untuk membuat orang di sekitarnya merasa nyaman. Selalu membaca buku atau koran di waktu senggangnya, sehingga saat berbicara dengan orang lain, punya sudut pandang yang luas. Aku selalu suka pemandangan teras rumah mayang saat menjelang waktu lebaran. Anak-anak yangkung duduk melingkar, sambil bercanda satu sama lain hingga larut malam. Para cucu sibuk makan bakso atau berebut skateboard,yang sampai sekarang kita semua nggak ada yang tau cara pakenya gimana. 

 

Saat kepergian oma, yangkung menolak tinggal di Jakarta dan memilih tinggal sendiri di Malang. Aku saat itu terlalu muda untuk tau atau paham apa yang bisa ku lakukan untuk menemani yangkung. Padahal aku bisa ya telpon yangkung untuk sekedar bertanya kabar dan menceritakan hariku dan mengunjungi yangkung saat berlibur. Lalu saat yangkung berpulang, MashaAllah, banyak banget temen-temen yangkung. Yangkung begitu dicintai! Dan kak santi menyadarkan aku, keluarga sutopo ini adalah panutan dalam berkeluarga. Mulai dari akhlak, cara berkomunikasi, sampai belajar batas dan menghargai sifat tiap individu.

 

Yangkung, terimakasih telah memberikan contoh serta menginspirasi. Aku beberapa kali mimpiin yangkung dan beneran kangen banget sama yangkung. Kami semua di sini hidup dengan baik serta rukun, yangkung. Salam untuk mama dan oma di sana yaa...




Tulisan yangkung tentang perjalanan hajinya

Manis, kan?


Jumat, 03 September 2021

Ke Mana Perginya Mereka yang Sudah Meninggal?

Saya tau, mereka berada di akhirat sedang menunggu datangnya hari kiamat, menunggu waktu perhitungan tiba. Itu yang saya pelajari sejak sekolah dasar, sampai saat ini diyakini, sambil menunggu waktunya tiba. Pertanyaan di atas itu bukan ditujukan untuk mereka yang pergi, tapi untuk saya, kita yang bertahan. Kita yang terus menjalani hari, satu demi satu langkah memulai sesuatu, menghabiskan yang tadinya detik, menjadi menit, lalu ke jam.. Begitu terus. 

 

Baru-baru ini saya merapihkan rumah dan mendapati diri saya berada di tumpukan boks berisi foto, buku, dan dokumen almarhum mama. Saya buka satu persatu, saya lap debunya sambil mengagumi apa yang dilakukannya. Perasaan ini hangat, hati ini penuh. Tahun ini sudah masuk 15 tahun meninggalnya mama, angka yang sama di usia saat mama meninggal. Saya sibuk menjalani hidup, tapi ingin sekali berhenti di peringatan tahun ke 15 ini untuk berdiam lebih lama. Kenapa? Just wondering, separuh hidupku dengan kehadiran mama dan separuhnya lagi hidup dengan berpegangan memori tentangnya. 

 

Tanggal 1 maret 2021 itu saya lalui dengan berdoa dan mencoba berkomunikasi dengan diri sendiri dan (seolah-olah) dengan mama. Semuanya berjalan lancar sampai ada satu perasaan yang ingin dikeluarkan tapi saya ngga tau apa. Saat itu saya cuma pingin nangis sambil babbling apa aja yang ada di hati. Sampai akhirnya ke luar satu perasaan inti, yang menurut saya paling masuk akal untuk menjelaskan sikap saya beberapa tahun ini. 

 

“Aku takut lupa memori tentang mama…”

 

As I grow older, I made a lot of memories. Hari itu saya takut, setakut itu untuk kehilangan memori tentang mama. Karena kamu tau kan cara kerja memori. Kamu pilih yang paling berkesan dan menarik, lalu kamu putar itu terus menerus-menerus sampai memenuhi dahagamu. Terus apa yang terjadi kalo kamu memilih memori yang sama selama 15 tahun? Kamu mendambakan memori yang baru karena yang lama menjadi usang. Saya, menjadi seorang manusia biasa, yang ingin memiliki sesuatu yang lebih.

 

Kembali pada siang itu dengan tumpukan boks berdebu berisikan album foto mama. Saya kaya lagi dikasih update software. Menghubungkan puzzle lama dan mencoba memahami setiap tindakannya. Mencoba menerka, apa yang ada di pikirannya? Siapa yang influence kamu saat itu, ma? Begitu banyak pertanyaan dengan minim jawaban. Masih sibuk membuka foto dan folder milik mama, sampai pada akhirnya saya menemukan satu titik pemahaman lagi. Pada akhirnya semua orang yang hidup, akan berubah menjadi memori, dan diabadikan dalam setumpuk dokumen. Eksistensi orang itu, pada akhirnya menjadi sebuah dokumen. Entah berupa foto, nilai rapot, ijazah, piagam, sertifikat. Kertas-kertas itu yang menceritakan secara singkat perjalanan hidup seseorang dari akta kelahiran sampai berakhir di sertifikat kematian. 

 

Saya akhirnya memahami, ada sebagian orang yang pada akhirnya menyimpan setumpuk dokumen dan barang (yang mungkin menurut kita buat apa sih disimpan?) sampai akhirnya termakan waktu dan terlupakan. Karena bend aitu menyimpan banyak sekali memori, yang mungkin di waktu yang tepat saat kamu buka kembali, bisa menyelamatkanmu. Masa kejayaan itu, masa di mana kamu hidup hanya untuk momen itu, masa di mana yang membuat kamu bisa bertahan sampai sejauh ini. Entah itu sebuah foto, buku catatan pelajaran, sepatu yang sudah usang, setiap kamu pegang lagi bendanya, seperti dalam mesin penjelajah waktu. Kamu ingat betul kapan mendapatkannya, apa yang terjadi, sehingga menjadikanmu menjadi seorang yang seperti apa. 

 

Menutup blog kali ini, saya kutip dari film favorit saya Reply 1994. Untuk aku yang berhasil bertahan 15 tahun dengan memori mama. 

 

“I thought it would hurt less as time passes by. But the older I get, the more I miss her”

 

dari aku, yang rindu sekali sama mama :)

Minggu, 13 September 2020

Midnight Overthinking

 Berapa kali sih kejadian pas kita otw tidur, tiba-tiba keingetan aja silly things masih kecil dulu. Like, why the hell did you do THAT!?  Terus malu sendiri... tambah ga bisa tidur. Yha~ Tapi sekarang kayanya gua punya sudut pandang baru deh kenapa ngelakuin hal ajaib itu. Because we were young, we don't complicate simple things. Kita hidup pada hari itu, rasa penasaran tumbuh dan pingin banget tau apa sih ini? We just do it... and we learn. Rasa malunya kan baru tumbuh saat kita dewasa. Saat kita baru ngeh bahwa we are free to choose but we are not free from the consequences. 

Jadi balik lagi dengan hal aneh yang dilakuin jaman dulu. Kalo bisa muter waktu dan dikasih kesempatan buat nunda kejadian itu, gua rasa gua bakal mampir Indomaret dulu beli susu beruang sama sari roti, terus duduk dipojokan ngetawain tingkah Bani yang dulu. Karena secara tidak langsung, kejadian dan akumulasi dari kejadi-kejadian itu, yang ngebentuk gue sekarang. And I thank you for that. 

Salah satu contoh, gue punya sahabat baik dari SD. Menurut gue, hidup dia itu ngga gampang dan somehow dia bisa jalaninnya sambil bertingkah selayaknya anak SD. I adore her a lot! Gue yang saat itu masih 12 tahun dan nggak bisa nahannya, kadang suka nangis sendiri di kamar dan kegep sama nyokap. Singkat cerita, gue curhat lah sama nyokap dan she takes it seriously. Semua berjalan baik-baik aja, sampai suatu hari nyokap jemput sekolah dan minta dianterin ke rumah sahabat gue ini. Dia kasih tau kalo mau ngomong sama nyokap sahabat untuk kasih perspektif dari segi orang tua ke anak. Satu sisi gue ngerti bahwa niat nyokap baik, dia mau ngelakuin sesuatu untuk sahabat gue ini. Akhirnya kita pergilah dan di rumahnya gue main sama sahabat, sementara ibu-ibu ngobrol berdua. Begitu pulang dan sampai rumah, gue telpon rumah sahabat gue, dia nggak mau jawab telpon sama sekali. Gue udah feeling, dia bakalan marah T~T Berkali-kali gue coba telpon, sampai akhirnya dia mau angkat dan bilang: Lo cerita apa ke nyokap? Di situ gue coba jelasin dan dia tetep marah. Kejadian ini bikin gue kehilangan kontak sama temen gue sekitar 2-3 tahun. Kemudian dia tiba-tiba sms gue untuk nanya kabar aja, deg-degannya kaya apaan tau. Because I don't want to loose her anymore. 

Kejadian ini tuh ngasih impact besar ke kehidupan gue sampai saat ini. Pertama, amanah. Sekalinya orang udah cerita sama lo, itu artinya dia percaya sama lo dan pegang kepercayaan itu. Kedua, kadang orang cerita tuh untuk ngelampiasin emosi, ngga melulu tentang solusi. Jadi sahabat dan pendengar yang baik aja buat dia, itu udah lebih dari cukup kok. Ketiga, kalo gue bisa bilang ke nyokap, it would be nice sebelum ke rumah sahabat, tanya dulu bersedia atau enggaknya gue dan dijelasin konsekuensinya apa. Keempat, gue jadi jauh lebih berani untuk minta maaf dan ngejalanin resiko atas kesalahan atau keteledoran gue. Kalo dipikir lagi ya, mungkin emang hal-kecil-yang-bikin-malu ini yang secara ga sadar, bikin kita tumbuh dewasa. 

Jadi, buat yang namanya Rinjani, gue minta maaf banget ya dulu pernah ngecewain lo huhuhu. I've learned my lesson dan semoga bisa dijalanin terus sampai nanti. Sehat dan bahagia terus ya rin! 

Minggu, 17 Mei 2020

Grieving



There's something you need to know about grieving, terutama mereka yang menghadapi kematian. Flash back through 2006, on march 1st to be exact. It was a vivid memory, tapi saya ingat sekali perasaanya di setiap menitnya.

Pukul 3 pagi, telepon rumah berbunyi. Saya tau, berita itu akan datang. Lagipula mana ada berita baik lewat telpon rumah jam 3 pagi sih? Setelah tutup telpon, mba saya coba membangunkan dan entah kenapa saya pingiiin banget denger dia ngomong langsung ke saya apa berita dari papa itu. "Kenapa? Papa ngomong apa? Yaudah ntar aja, masih ngantuk" Sementara dia terus coba bikin saya telpon papa, because I know, dia ngga akan sampai hati untuk sampaikan pesan bahwa mama meninggal.

Lalu telepon rumah kembali berbunyi, kali ini mbak bener-bener memastikan saya bangun untuk angkat telponnya. Papa menyampaikan pesannya, lalu saya kembali ke kamar dan rebahan. Berusaha tidur yang pastinya ngga bakalan bisa. Kemudian semuanya berjalan cepat; saudara tiba di rumah, saya disuruh mandi dan sarapan sambil bengong. Lupa, sempet nangis ga ya. Yang pasti baru pecah begitu ada om tetangga yang telpon (padahal kita ga pernah ngobrol sama sekali) nanyain papa di mana, papasan sama suara mobil jenazah and it really hits me: mama dateng. 

Tadinya saya mau bilang pas liat kondisi mama, berasa kebas. Tapi engga, sempet nangis kok walaupun cuma sebentar. Mungkin bukan kebas, lebih tepatnya saya ngga suka ngeliat mama dengan kondisi pucat dan kaku seperti itu. I want to remember her as an energetic woman, ceria, cantik, penuh kehangatan. So I barely looking at her face on that day. Saya mau selalu mengingat mama dengan versi yang berbeda. Dan di hari itu saat semua orang datang berduka, memberikan pelukan, saya di umur 15 tahun, menyadari bahwa it's just a temporary. Setelah ini selesai, mereka pulang dan menjalani kehidupan mereka seperti biasa. Sementara saya? Begitu mereka pulang, inilah grieving saya yang sebenarnya. Bukan perpisahan atau melihat mama saya yang terakhir kali yang membuat saya, atau orang yang ditinggalkan ini  sedih. Tapi ngejalanin hari-hari, rutinitas, kebiasaan yang selama ini dilakukan dan kenyataannya mereka ngga ada lagi di samping kita, that's the real deal. Jadi saya putuskan pada haru itu, saya ikuti saja alurnya.

Mereka datang, mendoakan mama, menghibur kami, sampai ada waktu saya lupa mereka ke sini buat apa sangking senengnya dihibur sama temen-temen. Tante saya bahkan sampai harus ngingetin untuk jaga suara dan mengingatkan kalau saat ini saya harusnya berduka karena mama meninggal. Jadi ya saya kembali masuk rumah dan menangis lagi.

Acara pemakaman selesai, hanya beberapa keluarga di rumah. Masih ada yang nemenin, aman, pikiran saya. Mungkin kehadiran keluarga, saudara, sahabatlah yang membuat saya kuat. Mereka ngga perlu effort berlebih, cukup di samping saya please, membuat saya tahu bahwa saya ngga sendirian. So I decide the next morning untuk masuk sekolah aja. Di umur 15 tahun itu saya menyadari, pity on myself won't change anything, and I need to move on. Kenyataannya ya mama meninggal dan semua akan berjalan seperti biasa. Diam di rumah, ngga ngapa-ngapain malah bikin saya nyadar ada yang hilang dan saya belum siap untuk itu. Jadi tolong, biarkan saya hadapi ini secara perlahan dan anggap ngga ada yang berubah. 

Besokannya begitu sampai sekolah, tentu saja banyak teman sekelas bahkan guru yang kaget. Untungnya ada ratna, arbi, cholid yang bisa membuat hari pertama kembali masuk sekolah berjalan seperti biasa. Tetep ngejailin, bercanda, dan beneran deh saya berterimakasih sekali untuk mereka. Pulang sekolah pun, ini yang terberat. Pemandangan mama yang selalu tidur siang di kamarnya sambil pintu di buka setiap saya pulang sekolah, harus terbiasa melihatnya kosong sepanjang tahun. I was pretending mama selalu tidur di kamarnya, sampai entah kapan. Damn, I miss that kinda view. Saya yang langsung ganti baju lalu nyelinap di antara lengannya sambil tidur siang bareng until let's say jam 4 sore. Lalu mama akan bangunin sambil bilang: anak mama udah banguuuuun. Mama bikin apa tuh di kulkas? Coba sana liat! Yaah gua nangis lagi kan dah sekarang. 

Begitulah cara saya menghadapi masa berduka. Dan ada waktu saya sama papa lagi di mobil berdua, hujan, kita dengerin lagu Rolling Stone yang judulnya Empty Without You, lalu papa bilang: Dek, papa kangen sama mama. We both cried along the way, dan di situ saya tau saya nggak sendirian. It was a beautiful memory. Karena saya belajar, ayah saya juga manusia. Di situ saya semakin dekat sama papa, mas bala. Oh ya mas bala, ngga tau lagi saya kalo ngga ada dia yang ngebimbing selama grieving ini saya bakalan gimana. Cara menghibur dia (sampai saat ini) itu lucu. Saya lupa di jalan abis sedih kenapa, mas bala cuma nanya: mau beli rotiboy ga? Kita dateng ke mall terdekat, beli, lalu pulang. Tapi saya happy baaanget dalam perjalanan itu. Saya punya dua cowok luar biasa yang selalu bisa diandalkan. Mungkin ini yang dinamakan when you're losing, you find something. Proses menemukannya tentu ga secepat dan semudah yang dibayangkan, unless you're ready and be true to your feeling. Dan selama proses berduka ini walaupun kontradiktif, saya belajar bahwa it's okay kok untuk membohongi diri sendiri sampai kita bener-bener siap. Karena perasaan itu sendiri tricky, tersirat. Saat kita pikir udah deket sama apa yang dimau, ternyata kok bukan ini. Lalu kita ambil lagi jalan yang berbeda, kita gali lagi apa yang diingini, sampai akhirnya kita bisa bilang: ya, berhenti. Ini yang saya mau. Lagi-lagi saya harus menyetujui, percaya sama kata hati, karena dia akan menuntun. 

Maybe, this is why I insist to stay on this job. Bisa kumpulin memori mama saya dalam pekerjaan ini, mengenal dan memahami apa serta kenapa sifat beliau. Atau menyimpan bau parfumnya sampai saat ini. Bersepeda seperti olahraga favoritnya. Saya hidup dengan serpihan-serpihan memori tentang mama dan itu membuat saya bahagia. But don't get me wrong, saat ini saya juga punya ibu dan she's nice. I just want to keep my memory tentang mama, karena dia alasan keberadaan saya. 

Kepada siapapun yang sedang berduka, saya harap kamu bisa bertahan dan dapat melaluinya dengan baik. My mantra was: hanya karena dia tidak terlihat, bukan berarti dia tidak ada. Dia hidup kok di hati kita, so that's why we need to stay alive, jadi dia bisa tetap hidup bersama kita. So live a happy life as best as we could. Cheers!

Sabtu, 28 September 2019

24 m

Dua tahun setelah postingan terakhir. Perasaannya masih sama, setiap buka lagi tulisan dulu tuh... hangat. Ada gadis pemberontak di dalam sana, mempertanyakan semua hal dan mengikuti rasa penasarannya. Benar ya, all you have to do is asking the right questions. Walaupun dewasa ini sering kali didapati bahwa ya... sometimes curiosity kills the cat, tapi gadis ini mikirnya: peduli amat, urusan entar.

Semakin berumur, semakin banyak yang dijadikan pertimbangan. Harus lebih hati-hati, lebih bijak dalam bertindak. Unsur fun mah tetep adaa, cuma bentuknya aja yang beda. I'm not complaining about me getting older dengan rengekan klise. Ya namanya juga hidup, semua berubah. Nggak ada yang nggak pasti, karena yang pasti cuma ketidakpastian. So you have to seize the moment. Setiap doa, saya selipkan kalimat "semoga penuh berkah dan menyenangkan!". Karena kalo ga bisa seneng-seneng, ribet idup lu sisteuuuuur

Jadi, apa yang berubah dari dua tahun ini? Well, nothing much. Cuma sekarang sudah menikah dengan pria yang melengkapikuu (suka bersih-bersih sementara aku AHAHAHAHA), anak bayi gemas yang doyan banget gigit kabel yaampun, dan dalam waktu beberapa minggu lagi akan kembali mengudara.

Manusia dengan pilihannya. Either you choose wisely or poorly, at least be a good storyteller. Biar kalo ga ada faedahnya pun, tetep bisa jadi bahan lawakan gitu.



Have a great day!

Rabu, 13 September 2017

The Part When You're an Adult

Hai! Udah lama ya ngga ketemu hihihi. It feels sooo good untuk bisa lihat lagi tulisan blog yang lama dan menyadari bahwa kamu punya sebuah sosok yang begitu... berani dalam diri kamu. Dia yang berawal dari rasa ingin tahu, kemudian mempertanyakan, lalu menyamakan kembali dengan hati nuraninya, kemudian jatuh, lalu bangkit lagi dengan tegak sambil terus mengikuti naluri keingintahuanmu. Kamu yang berprinsip dan berani untuk meyakini apa yang kamu percaya.

Kemudian, kamu melihat banyak hal.
Kamu melihat begitu banyak hal untuk dimengerti. Kamu belajar untuk mendengarkan, menguji empati. Belajar untuk berbicara dan meyakini apa yang benar. Belajar untuk bersikap dan menghadapinya dengan tenang. Seriusan deh, dunia udah segila ini ya. No, I won't share you tentang berita kriminal atau penipuan makanan berformalin dalam blog ini. Ini lebih parah. Orang-orangnya omagaaaaah! Banyak orang tiba-tiba jadi lebih sensitif, egois, self-centered, ibaratnya barang kargo nih ya, semua badan sama hati isinya pecah belah dan biar pada tau dikasih tempelan warna orens gede-gede yang tulisannya dikasih bold dan underline: FRAGILE, di setiap sudut bagian tubuh. Kasih emoji sedih nangis dulu boleh yaa (T~T) (T~T) (T~T)

Pernah nemuin satu momen di mana I was so fed up with all of these things. Ga cocok. Semua yang dulu kamu percaya dan yakini, ternyata bertentangan dengan kenyataan. Kalau kata orang jaman dulu, katanya udah mau akhir jaman karena semua mua muanya serba kebalik. Dan saya capek harus terus menemukan fakta baru bahwa apa yang dulu saya percaya, lagi-lagi ga cocok sama kenyataannya. Sampai akhirnya saya minta sosok yang dulu saya banggakan itu, untuk diam. And the next thing I know, I become emotionally numb. Menjadi kebal dengan sekitar, menyelamatkan diri sendiri, tidak peduli, apatis. Saya mulai terbiasa dan membiasakan diri untuk menjadi seperti itu.

Tapi ternyata susah ya. Apalagi dengan kerjaan yang bikin saya pergi ke sana-sini, ketemu banyak orang yang begitu beragam dan latar belakang yang berbeda. Ada banyak orang yang saya temui, they give me sparkle in their eye. Saya kira hal-hal seperti ini cuma ada di film, tapi ternyata engga. Ternyata dari interaksi itu, menumbuhkan rasa hangat di hati kamu. Memberi kamu arapan, kalau kamu kamu engga sendirian. Interaksi yang berasal dari rasa tulus, murni, apa adanya, membuat kamu yakin bahwa ditengah ke-chaos-an lingkungan saat ini, kamu memlilih untuk kembali percaya dengan nurani kamu. Kamu punya pilihan: untuk ikut tenggelam dengan rasa kekecewaan, kekesalan, amarah kamu, atau kita cari jalan yang lebih menyenangkan. Kalo ambil dari hukum kekekalan energi, energi dapat berubah dari satu bentuk ke bentuk yang lain; namun tidak bisa diciptakan atau dimusnahkan. Cari cara masing-masing untuk bisa release, then start to make an action. Tidak harus besar, dimulai dari hal kecil dan konsistenlah. Dan di sini saya mulai sadar untuk pentingnya punya prinsip.

Ohya, saya pernah baca di 9Gag tentang seorang veteran yang mengkritik tentang era kita. Afterall, we're living in the most peaceful time in human history. Setiap masa punya konfliknya masing-masing. Manusia pernah hidup di mana perperangan hampir terjadi setiap hari, perbudakan. Dan konflik millenial sekarang yang sering terjadi adalah, Wifi ga ada dan kuota abis. Saaad. Jadi yaudah, tergantung kitanya mau ambil sikap yang mana. Ya ngga sih?

Rabu, 23 Desember 2015

Akhirnya!

Kadang ya, ngelakuin sesuatu yang besar nggak melulu dari hal yang dramatis. Bisa jadi dari hal kecil, sepele, atau bahkan iseng. Enggak sengaja, tapi dianya kaya terus manggil... Manggil... Mangggil. Diabaikan berkali-kali ya bisa, tapi ada waktu sekali aja untuk ngasih ruang imaji itu untuk bermain... Perasaan deg-degan sama excitednya ga bisa dihindarin. Kayak "Wah gila sih kalo dilakuin. Bakalan keren banget... Tapi gila sih."

Dan setelah dua minggu berlalu. Setelah jet lag, flu, tengleng berkepanjangan karena efek dari sembilan hari yang menyenangkan itu. Gue masih nggak nyangka kalo udah nyelesaiin perjalanan ajaib itu.

Ke Islandia.

Negara di ujung dunia itu, dengan salju yang bertebaran di mana-mana, serta angin berhembus dengan kencang yang sukses membuat gue yang tadinya jalan dengan kokoh terus jadi miring melulu (terimakasih pencipta koyo tempel, saya doakan jalan menuju surga-Mu terbuka lebar). Negara yang pelafalan ibukotanya baru bisa diucapin sebulan sebelum keberangkatan, dengan pria viking yang besar, berotot, tampan, dan ramah, bertebaran di mana-mana.

Gue berhasil ke negara itu... Cendilian. Ya, dianterin mas bala sih sampe amsterdam terus pulangnya juga dijemput sama papa di amsterdam. Tapi tetep, di sananya sendirian.

Pencapaian yang cukup membanggakan. Post lengkapnya menyusul yaa!








Minggu, 18 Oktober 2015

Clarity



Adult Pi Patel: Faith is a house with many rooms. 
Writer: But no room for doubt? 
Adult Pi Patel: Oh plenty, on every floor. Doubt is useful, it keeps faith a living thing. After all, you cannot know the strength of your faith until it is tested. 

Sabtu, 09 Mei 2015

Little Thing Called Love


Momen yang bisa ngubah sudut pandang kita gak selalu dimulai dari kejadian besar kok. Bisa sekecil jabatan tangan, kontak mata, atau bahkan dari sebuah bisikan ringan. Kayak malam ini. 

Bisa diitung dua tangan kali ya dalam setahun bisa berapa kali dapet tugas ke Surabaya. Satu kota yang dulu hampir tiap lebaran pasti mampir kemari, ketemu eyang sama eyang putri. Terus semakin berumur, eyang putri meninggal, kesibukan papa dan berbagai kendala yang ada, ngebuat ke rumah eyang adalah suatu kegiatan yang langka. Sekalinya ke rumah eyang pun juga jadi canggung, karena kurang familiar dan eyang sendiri kebetulan bukan tipe orang yang banyak ngobrol. Jadi kegiatan pun berlalu dengan saling nawarin makan.... Nawarin buah.... Dan berakhir dengan nonton tv bareng........ Sampe eyang masuk ke kamarnya lagi.

Terakhir kali ke sini pas dinas pun ternyata ritualnya masih sama: nanya ini siapa, lagi sibuk apa, abis dari mana....... Terus nawarin makan, nawarin buah, dan nonton tv bareng (lagi). Makannya, tau hari ini bakal nganter barang titipan papa ke rumah eyang, begitu nyampe sana pikirannya malah udah nyusun jadwal aja mau wisata kuliner mana abis dari sini. 

Lagi di tengah ngobrol sama tante, tiba-tiba eyang manggil salah satu saudara, sambil ngebiarin pintu kamarnya kebuka. Niatnya cuma masuk untuk say hi dan ngobrol sebentar sama eyang. Later on, it was the longest conversation that I've ever had with this man. Bukan cuma terlama, tapi ini pertama kalinya ngerasain ngobrol sama eyang dengan dia sebagai seorang kakek. Nyeritain gimana masa dia sekolah di jaman belanda dulu, gimana dia bisa jadi seorang pejuang, sampai akhirnya ketemu sama eyang putri. Cerita yang belum pernah dia utarain sebelumnya. Dan di tengah dia cerita, ada satu foto yang ditaro di sisi kasur dia yang keliatannya gak asing banget. Ternyata selama ini, foto Bani masih kecil dipajang di kamarnya eyang. Manis yaa : ) Terus pas pamit pulang pun, beliau sempet bisikin kalimat simpel tapi ga pernah dikeluarin sebelumnya. Dia cuma bilang, "Terimakasih ya atas kunjungannya..." Cuma terdengar tulus. 

Baru aja beberapa hari yang lalu, ngingetin salah satu temen, untuk perjelas niat sebelum dia ngelakuin sesuatu. Tadi nih sebelum berangkat, niatnya, sebelum tidur malem nanti mau flashback udah ngapain aja sambil bikin resolusi ah sebelum masuk umur baru. Tuh kan, beneran di kasih. Instan yaa~ 
Kaya.... Apa ya. Berani ngebolang kesana-kemari, ketemu tempat baru, orang baru, perasaan baru, untuk ngerasain suatu hal yang beda. Padahal selama ini ada satu orang yang... Dia gak ke mana-mana, tetep di rumahnya. Ngebiarin pintu kamarnya ketutup sampai waktunya pas dan nunggu cucu perempuan pertamanya masuk dari pintu itu, terus duduk di sebelahnya dia, nanyain pertanyaan konyolnya dia, dan dengar cerita-ceritanya beliau. 

Bahwa kadang, yang kita cari, jawabannya gak jauh-jauh kok dari sekitar kita. 

Selamat malam mingguu!

Sabtu, 11 Oktober 2014

Ring-ring!



"Sometimes fate is like a small sandstorm that keeps changing directions. You change direction but the sandstorm chases you. You turn again, but the storm adjusts. Over and over you play this out, like some ominous dance with death just before dawn. Why? Because this storm isn't something that blew in from far away, something that has nothing to do with you. This storm is you. Something inside of you. So all you can do is give in to it, step right inside the storm, closing your eyes and plugging up your ears so the sand doesn't get in, and walk through it, step by step. There's no sun there, no moon, no direction, no sense of time. Just fine white sand swirling up into the sky like pulverized bones. That's the kind of sandstorm you need to imagine."

Haruki Murakami - Kafka On The Shore

Rabu, 08 Oktober 2014

Tightrope





Pekerjaan ini ternyata meminta effort luar biasa besar dari yang gue kira. Tidak, Hayati bukan sedang lelah, bang. Justru bersemangat! 

Ngasih sedikit gambaran dulu, boleh ya? Well, our primary duty is to ensure the flight is safe, secure, and give the best servive to passengers. Semua bekal pun juga sudah disiapin dari training dan terus belajar sampai kita di dalam kabin. Tempat yang berbeda, penumpang yang beragam, juga tim yang selalu berubah di setiap perjalanannya, membuat kita diminta untuk fleksibel. Karena rutinitas yang berganti terus menerus, saya pernah ada di satu titik di mana mati rasa dengan perasaan perubahan itu sendiri. Memang, pattern kerja akan selalu sama. Cuma apa yang dihadapi selalu berubah. Sehingga yang namanya hal baru menjadi... Sebuah zona nyaman. Bisa dibayangin ga? Yang harusnya itu ngebuat kamu deg-degan, penasaran, dan semangat, malah jadi biasa.

Ya, saya kehilangan rasa bersenang-senang di sini. Dan itu ga enak :( Sampai akhirnya bangun di suatu pagi untuk siap-siap tapi ngeluh cape sisa kerja kemarin, and I choose to stop and asking to my self instead: "Bukannya ini yang kamu mau?" 

Ternyata saya sedang menjadi manusia normal lainnya. Kaga puas-puas. Dimulai hari itu (dan beberapa hari kemudian yang masih ga rela lepas dari kasur) saya memilih cara yang berbeda. Dari pemikiran main aman dan mendambakan penerbangan yang sempurna (yang justru berakhir dengan tekanan batin sendiri), diganti menjadi whatever will be, will be! Dengan tambahan ngasih apapun yang saya punya, berkomitmen, dan have fun (tapi anggun)! 

Some of you might think why should I take this job seriously, while the others like: "Yaelah mbak, rajin amat." Karena... Pekerjaan ini begitu digelimpangi kemudahan dan nikmat. Jadi akan jauuuh lebih mudah untuk ngeluh karena mobil jemputan telat atau dapet parkir pesawat di Remote Area (yang dimana justru seruuu, bisa liat banyak pecawaat), dibandingin take everything seriously and learn from it instead. Kita bisa milih kok antara liat sesuatu sebagai problem atau challenge. Kalau suatu hari pun kita ketemu di kabin, mungkin saya nyaru sama mbak-mbak yang lain. Tapi yang ngebuat saya beda, I learn something from this flight. I learn something from you. Bukan tentang taktik aja, tapi juga secara emosional. 

Have a great day! 

Selasa, 09 September 2014

Silent Sigh

Bahwa sesungguhnya, gue lelah untuk denger Indonesia dibandingin sama negara lain.

Ya dari wisata lah, transportasi, pemerintah, masyarakat, sampe kotak sampah aja sampe dibandingin. Setelah apa yang udah dijalanin pun, kata "Indonesia itu kaya banget..." Hampir ga bernyawa kalau dilafalin. Karena memang sebenernya, cara terbaik untuk menikmati yang di depan mata, adalah dengan tidak membandingkan dengan apa pun.

Kamu hanya perlu diam, menikmati apa yang di depan mata, lalu rekam baik-baik setiap detiknya.

Timika, 2014

Ternate, 2014

Banjarmasin, 2014

Biak, 2014

Ngutip dari The Secret Life of Walter Mitty, boleh ya?

"Beautiful things don't ask for attention."




Good night! 







Rabu, 18 Juni 2014

Krik... Krik...

Setiap hari penuh dengan kejutan.


P: Ade tinggal di mana?

B: Jakarta, pak. Bapak asli sini?

P: Abang asli Jayapura. Ke sini (Merauke) hanya untuk urusan saja.

B: Wah sibuk ya, pak...

P: Jangan panggil bapak. Abang saja biar akrab.

B: ... Baik, bang. 

P: Ade ada pin bb?

B: ... Nggak punya bb saya.

P: Kalau nomor hp ade, boleh abang minta? 

B: Hapenya nomernya baru, belum inget....

P: Yah. Ngomong-ngomong, abang sedang single.

B: Oh begitu...

P: Tapi sekarang abang lagi nyari calon istri.

B: Wah...

P: Jadi, gimana cara abang ngehubungin ade? 


PAPAAAAAAAAAAAAH

Selasa, 10 Juni 2014

Lean In


Gak bakalan gue lupa hari itu. Belum juga ada sebulan kerja di majalah franchise internasional satu ini dan gue udah mikir buat nyerah.

Gimana enggak?

Ritme kerja yang gila banget, tiap hari gue 'dipaksa' buat ngeluarin ide, ngejar sana-sini yang nggak ada abisnya, nggak dikasih waktu sedikit pun buat napas! Di kantor udah kebingungan sendiri, cape di jalan juga ngejar kendaraan umum, nyampe rumah pun pas tidur mimpinya tentang kerjaan. Gue hampir nyerah. 

Beberapa bulan itu kondisi di mana gue harus ke luar sejauh-jauhnya dari zona nyaman gue. Deg-degan di setiap harinya. Buat kesalahan juga ga sekali-dua kali. Gak berenti di situ, gue dipacu buat lebih 'liar' lagi buat nyari ide. Bener-bener gak enak. Sangat gak enak. Dan gue tiba-tiba ngerasa... Nggak pantes ada di sini. Gue sampe di tempat di mana.... Yaudahlah, jalanin aja. Pasrah. Seterah deh itu hasilnya gimana, udah hampir tewas ngerjainnya.

Lalu tiba-tiba gue, Keken, Kanta, disuruh translate satu artikel tentang suplemen career. Seperti biasa, gue fokus aja buat ngerjain apa yang di depan. Sampe begitu gue sadar... Ternyata baca artikel ini kaya lagi... Ditampar. 

Judulnya Lean In, wawancara eksklusif Sheryl Sandberg, wanita pertama yang ada di jejeran petinggi Facebook. Di artikel itu, dia ngejawab semua kekhawatiran, ketakutan, dan cukup ngegambarin tentang keadaan sekarang. Di sini, dia justru nantangin apa yang selama ini kita pikir kita percaya. Di sini, kita diajak untuk mempertanyakan kembali ketakutan kita. 
What would I do if I weren't afraid? 

Banyak. Ternyata banyak banget hal yang bisa dilakuin! Dan entah kenapa, gue justru kangen lagi waktu di mana terus dipacu buat terus eksplor diri. Di mana harus deg-degan, was-was, geregetan, sampe gabisa tidur. Kangen, buat tau seberapa jauh gue bisa pergi...

(Artikel aslinya, bisa di klik di sini http://www.cosmopolitan.com/advice/work-money/sheryl-sandberg-lean-in-book-excerpt )

Selasa, 20 Mei 2014

Downloading...

... the new version of Bani.

Kaga lah. Canda.


Jadi gimana, kehidupan beberapa minggu ini? Alhamdulillah baiik. Cuma... Apa ya? Mungkin sekarang lagi masa adaptasi sama dunia baru, lingkungan baru, kerjaan baru. Cara pandang sama kebiasaan pun berubah drastis. Iya, se-eks-trim itu. Mulai dari pagi jadi malem - malem jadi siang. Ritme kerja yang kadang bikin bengong sendiri sangking cepetnya. Gejolak sama warna orang yang bedaaaa- beda banget di setiap waktunya.

Di satu sisi, ini yang saya mau, namun di sisi lain saya juga ngeliat tantangan baru. Nggak nyangka bakal se adu silat gini juga sih.

Beberapa waktu lalu kangen banget nulis sebenernya, kangen banget. Tempat dan waktu di mana semua tulisan ngalir apaadanya, tanpa harus mikirin ini bener atau salah. Tapi mungkin karena tahap adaptasi di kerjaan, sahabat satu per satu udah mulai hengkang luar kota buat ngejar cita-cita mereka, ada juga yang mulai masuk ke tahap hidup mereka dengan komitmen untuk menikah, semuanya ada dalam satu waktu yang sama. Mendadak mellow dan mendadak mempertanyakan semuanya.

Jadi gini ya, rasanya jadi dewasa. Bukan dewasa ding, tumbuh menjadi orang dewasa. Mulai ke luar dari zona nyaman kita, ngejar apa yang kita mau, lalu mempertahankannya. Sebenernya tau, tau itu yang pasti dilakuin sama setiap orang saat selesai dari masa studi mereka. Cuma... Nggak nyangka aja bakalan secepet ini. Masing-masing punya jalan yang dipinginin, jadi takut lupa untuk menjaga apa yang udah dibangun pas kita masih, katakanlah, muda dulu. Seperti... sahabat dan keluarga, mungkin? Atau hobi? Mereka yang tau dan ada di setiap proses perjalanan, jadi ada batas buat ngeraih mereka.

Bentar, did I say "muda"?
Demi Tuhaaaaaan, umur situ juga masih bawang kali sist.

Lalu... Di sinilah saya sekarang, nyoba buat nyeimbangin keduanya. Antara work life dan social life. Agak rentan masuk angin sih badannya, but I'll find my own way. Ada juga buat nyeimbangin antara persepsi orang-orang tentang satu hal, yang kayanya udah jadi pengetahuan umum untuk yang bersangkutan, dengan sudut pandang sendiri. Bisa diliat dari dua sisi sih, jadi informasi atau justru jadi asumsi. Tapi sedih nggak sih kalau kita kenal orang secara menyeluruh karena persepsi orang lain, instead of ngeliat sendiri warna mereka? Jadi ilang satu hal yang penting dalam kehidupan sehari-hari. Memanusiakan manusia.

Anyway, have a great day!

Jumat, 09 Mei 2014

Thank You For Coming

Hari ini, aku dikunjungi mama. 

Sepertinya beliau tau, hari ini hari pertama aku menerima gaji. Jadi kami melihat layar mesin itu sebentar, mengucap syukur, lalu dia berkata sambil tersenyum:

"Zakat."

God, I miss you, ma : )

Kamis, 06 Maret 2014

Kalau Hati Udah Bilang Iya, Kamu Bisa Apa?


Cita-cita ini sebenernya nggak langsung kecetak pas di hari pertama gue lahir. Hidup di keluarga yang isinya di dunia penerbangan pun nggak ngebuat gue untuk jatuh cinta seketika dan netepin buat ada dalam bagian ini. Semuanya ada proses. Proses dari perasaan asing ngeliat papa dan mama sering pergi dengan kopernya. Perasaan sedih karena mama nggak ada di hari pentas gue nyanyi. Perasaan seneng karena setiap papa pulang selalu bawa coklat. Sampe perasaan capek campur pegel karena harus duduk tegak di jumpsuit cockpit dari awal penerbangan sampe akhir sekitar 2 jam lebih (yang kalo diliat lagi sekarang, betapa beruntungnya Bani Kecil bisa nongkrong selama perjalanan bareng pilot). Gue juga sering dilanda kebingungan setiap ditanya temen-temen tentang profesi papa, yang dibales dengan binar mata penuh kekaguman, sementara gue cuma bisa bilang: He eh. 

Jadi itu, itu yang harus dibayar oleh papa sama mama saat memilih berkeluarga sekaligus menjalankan profesinya. Dan itu juga yang menjadi alasan kenapa mama ngedidik anaknya untuk mandiri, countable, dan nanemin rasa kepercayaan dari diri kami. Terus, apa gue jatuh cinta di profesi ini saat udah ada gambaran dari keseharian mereka? Tentu aja enggak : ) Mama emang memilih untuk keluar dari dunia Pramugari begitu mengandung Mas Bala. Tapi makin ke sini, beliau juga beberapa kali ikut untuk Pramugari Haji. Pengalaman dan perasaan di situ, masih kuat dan ninggalin memori untuk ngegambarin sedikit tentang sudut pandang anak tentang orang tua yang memiliki profesi ini. 

Balik lagi tentang cita-cita. Pas kecil, I'm dying to be an Architect. Kereeen gitu ngeliatnya: meja putih yang gedeee sama penggaris yang ditempel di atasnya, bikin maket, sama tabung buat gulung-gulung kertasnya bikin semua mata tertuju sama benda itu. Terus pas nyadar gambar gue dari gunung-sawah-rumah jadi gunung-sawah-rumah-matahari perkembangannya sangat lamban, belom lagi tiap kali bikin garis hasilnya selalu miring, maka dengan senang hati mengikhlaskannya. Terus sempet juga nih beralih ke Fashion Designer. Tapi tiap gambar baju jadinya malah balon, pemilihan kaos sama celana yang kadang (boong - kebanyakan) malah tabrak motif sama warna. Maka dengan senang hati lagi, gue mengikhlaskan cita-cita itu. Dan gue pernah ditanya, nggak mau jadi Pramugari? Gue yang pas itu masih SMP pun ngejawab, nggak mau karena pekerjaannya pasti capek. Mama juga sempet ditanya ada keinginan anaknya jadi Pramugari atau nggak, dia juga jawab sama. Dia pingin anaknya punya pekerjaan yang bisa lebih baik dari dia. 

Jadi kenapa tiba-tiba ke sini? Awalnya karena travelling. Papa nanemin rasa menikmati sebuah perjalanan dari kami kecil. Beliau juga nunggu waktu yang cukup untuk kami aware bahwa tempat yang dikunjungi itu berbeda dari keseharian kami. Supaya pas udah gede nanti, katanya, kami inget pas kecil pernah ke sini. Kan sayaang, misalnya jauh-jauh ke Hong Kong pas umur lima taun, eh lupa pas udah gedenya. Ingetnya fotonya aja... Gitu sih alesannya. Papa juga numbuhin rasa untuk menjadi orang lokal. Diajak muter, interaksi, ngelakuin aktivitas, makan, di tempat yang banyak orang lokal lakuin. Di situ, muncul keinginan buat sering-sering travelling. Salah satunya adalah dengan jadi Pramugari.

Percobaan pertama gue untuk masuk ke sini adalah pas kuliah. Dan sukses ditolak di awal tahap. Ya gimana enggak, belom ada persiapan, jerawat juga lagi lucu-lucunya, nggak pake make-up. Sedih? Masih belom. Shock therapy aja palingan, namanya juga pertama nyoba. Lanjut lah kuliah, sampe lulus sidang tiba. Gue nyoba lagi dengan make-up cukup dan rasa percaya diri karena udah megang gelar pendidikan. Ternyata masih ditolak juga, dengan alasan yang masih misteri. Saat itu sebenernya ada piliha untuk sakit hati, ngelupain hal ini, dan move on ke pekerjaan lain. Mau travelling kerjaannya bukan di sini aja, bukan? But I choose the other option. Gue datengin itu yang namanya dokter kecantikan buat ngebasmi jerawat puber ini, daftar ke tempat les bahasa inggris yang ruang kelasnya kaya akuarium, sampe masuk ke sekolah kepribadian yang namanya sering ditulis di novel-novel. Harapannya cuma satu, biar bisa lolos dan makin sering travelling. Dan berbekal itu juga, daftar lah gue untuk ketiga kalinya. Semuanya lancaaar banget dari awal sampe tahap terakhir ini, sampe akhirnya Allah ngasih jawaban lain. Gue ditolak.

Pas nerima berita itu, I was really mad. I cried, I screamed (ditutup pake bantal tapiya), dan mempertanyakan kenapa hasilnya kaya gini sambil nyebut nama-Nya. Bener, gue udah gila-gilaan di sini. Poles sana-poles sini, sementara selama proses, ada banyak temen yang daftar karena iseng-iseng aja. Di tahap pemahaman itu, gue mikir ini nggak adil. I even hugged my dad and said these words: "Pa... Ade gagal. Ade udah gila-gilaan kaya gini, tapi ade tetep gagal pa..." sambil nangis. Kaya di sinetron-sinetron gitu deh. Percis. Tapi kalo mau diliat lagi, ternyata ada beberapa hal yang bikin diri gue ngebiarin gagal. Pertama, di atas awang-awang. Hanya karena gue udah ngelakuin lebih banyak usaha dari yang lain, bukan berarti gue punya hak untuk nilai mereka di bawah.  Gue mengkalkulasikan berbagai macam program yang udah dijalanin dengan mereka yang iseng-iseng aja atau nggak ngelakuin apa-apa. Iya, sombong sekali, ya? Makannya jatoh. Di situlah gue ngerasa doooown banget, nggak ada tenaga buat ketemu orang, apalagi ngobrol. Setiap pembicaraan pun juga mereka sepakat bahwa kaget denger berita ditolak ini dan sebelumnya yakin kalo bakal keterima. Nah kalo hasilnya begini, aku kudu piye?

Kedua, yang sebenernya terjadi adalah gue belom siap. Pas interview sama direksi, gue nervous. Masih ada bayangan bahwa dia itu siapa, dia yang akan menjadi atasan, dia yang menjadi penentu masa depan, dia adalah orang hebat. Gimana bisa gue bisa ngobrol natural sama penumpang kalo gue masih ada beban dengan jabatan dia? Yang ada malah fokusnya tentang common information, bukan kebutuhan dia. Terus yang terakhir, karena Allah nyiapin rencana yang lebiiih baik, rencana yang ngejawab masalah gue yang kedua tadi. Tapi kan ya namanya juga manusia, dan uniknya tentang manusia itu... kita hidup di saat ini. Kita nggak dikasih kemampuan (atau kebanyakan dari kita) untuk ngeliat masa depan, so we can learn from it. Kita jadi tau gimana rasanya, gimana cara ngadepinnya, dan gimana cara nyeleseiinnya. Jadi pas masalahnya selesai, kita bisa bilang: Oh.. gitu toh! Maka dari itu, beberapa bulan setelahnya gue pun nyoba lagi. Baru juga beberapa tahap, eh gagal lagi. Mulai di momen itu, gue tau ini udah nggak bagus lagi. Why? Karena gue daftar karena muasin rasa penasaran aja. Even worse, ini obsesi. Obsession will lead you nowhere. Obsesi itu bikin nutupin diri sendiri yang asli, yang bikin kita buta sama apa yang dimau.

Pada bulan Februari tahun lalu, gue mutusin untuk berhenti dan pindah ke jalur lain, yang sebelumnya sama sekali nggak kepikiran dalam pikiran: jadi reporter majalah lifestyle. Tambahan bonus: majalah ini tingkat internasional yang keberadaannya sangat diakui. Di sini, gue dipacu untuk ngeluarin kemampuan yang sebelomnya nggak pernah disadarin. Mulai dari nulis, ngomong sama orang yang well-known, berteman baik sama sesuatu yang nggak pasti (jadwal artis, peminjaman baju, pemotretan yang mendadak dibatalin), multi tasking, and did I say pekerjaan ini ngebuat gue bisa bolak-balik masuk toko sambil bawa tas belanja yang isinya baju Zara, Massimo Dutti, Banana Republic, Ted Baker, sampe Burberry? Di sini diajarin gimana cara megang kepercayaan dan menjaganya. Tapi ternyata, di sela-sela itu gue masih nyempetin untuk buka satu website yang isinya pendaftaran untuk Pramugari. Ternyata, hati gue udah bilang "Iya" di sini. Terus, gue bisa apa?

Prosesnya makan waktu sampe hampir tiga bulan. Dalam proses ini, ada banyaaak banget orang yang gue repotin, waktu yang udah dihabisin, sampe alesan yang gue keluarin, demi bisa dapet dua-duanya: proses interview dan pekerjaan tetep lancar. Selesai meeting kebut-kebutan naik ojek dari Menteng ke Kosambi, terus ganti baju dulu juga, bedakan, semua dalam satu jam. Pas lagi jam makan siang juga. Dari bandara abis interview terus dapet kabar kalo bos nanyain, yang bikin nyetir jadi kesetanan, yang ternyata pas nyampe ternyata bos minta rambutnya dikepangin. Pernah juga harus lembur buat nyelesein satu artikel sampe jam 10 malem, yang pas udah ditengah perjalanan ternyata baru inget kalo make-up ketinggalan, padahal besok pagi jam 8 udah interview akhir. Yaudah, puter balik lagi ke kantor dan mengutuk kecerobohan gue. Anehnya, di setiap proses ini yang harusnya bikin capek, malah bikin gue... semangat. Kalo pun hasilnya ternyata enggak, di sini gue mainnya udah gila-gilaan banget seenggaknya. Ini yang terbaik dari gue. It was the best time that I ever had. Karena jadi tau, when I want something, I'll go that far. Dan yang paling bikin tetep bertahan adalah, di sini ada banyaaak banget orang yang ngedukung bahkan direpotin di tiap tahapannya. Begitu hasilnya diumumin dan ternyata keterima, rasanya tuh kaya... menang bareng-bareng : ) 

Di proses yang kedua, gue ngerasa semakin dewasa di sini. Iya, abis naik ojek nerjang macet ke sini, tapi juga tau peserta yang lain mungkin ada yang lebih parah dari gue. Mereka juga ngorbanin banyak hal untuk bisa sampe di sini, bahkan untuk tahap-tahap berikutnya. Dan sekarang, gue gak bilang goalnya selesai sampe di sini, untuk sekedar masuk aja dan jalanin apa adanya. Nope. Di tahap pemahaman yang sekarang, gue menetapkan untuk memulai karier di sini, menjadi seorang Pramugari dengan jenjang karier yang sedang gue rancang untuk ke depannya. Ngasih terbaik yang dipunya, fokus, dan have fun sama apa yang dijalanin! Walau pun dulu mama pingin anaknya punya profesi yang lebih baik dari dia, how about this: Insyaallah, gue akan menjadi Pramugari yang lebih baik dari mama. Menjadi seorang istri yang lebih baik dari mama. Juga menjadi seorang ibu yang lebih baik dari mama. Amiiin. 

Jadi, kenapa gue mau jadi Pramugari? Karena gue menyukai pekerjaan dengan mobilitas tinggi. Membiarkan gue duduk seharian dari jam 9-5 di kantor akan menyebabkan gangguan mental pekerja lainnya, ketidak stabilan emosi, dan gengges. Selain itu, gue menyukai hal-hal yang terstruktur. Abis ini, ini, terus itu, abis itu, ini. Jelas. Bonusnya? Bisa ketemu banyak orang baru di setiap harinya, ngobrol dan nyapa penumpang, bahkan travelling! 

But let me tell you something, selama prosesnya juga ada orang-orang yang kurang mendukung. Dari persepsi tentang profesi ini, gimana selama proses keliatan kaya beauty pageant (dituntut mulus, tinggi, kurus), sampe ada yang nganggep nggak akan masuk karena kebiasa hidup enak. Belum lagi percaya diri sama keyakinan buat ngelanjutin lagi masih antara iya sama enggak, yang bikin kita balik ragu- lanjutin nggak nih? Kalo boleh saran, tanya lagi kata hatinya gimana. Karena dia pasti bakal nemuin lo lagi dan terus ada di pikiran. If it's still in your mind, then it is worth taking the risk. Orang mau ngomong apa juga, yang tau kan diri sendiri. Ya, kan? Terus, tetep percaya juga, semua hal yang kejadian di sekitar pasti ada alesannya. Pasti. Cuma masalah waktu aja buat taunya kapan. Sementara itu, stay positive. 

Jadi... Kalo hati udah bilang iya, kamu bisa apa? Jalanin aja, pasti ada caranya. Apa pun goal dan tujuan yang lagi dicapai, for God sake, lakuin dengan totalitas. I wish you tons of luck, see you on board, and may have a pleasant flight with us! ;p

Bismillahirrahmanirrahiim! : D


Meet my brother, Umbaya!

Ada satu bapak deketin kita dan bilang: "Mbak, adenya mau foto sama mbak pramugari. Boleh?". Kyaaaaa~


Senin, 17 Februari 2014

Morning Soundtrack


Iya, mungkin itu kata yang paling tepat. Abisan gini ya, sering banget setiap bangun tidur, jangan deh jangan bangun tidur. Pas badan udah mulai sadar dari mimpi ke bangun, di otak sering banget mainin satu lagu yang keputer terus. Kalo lagunya yang emang disuka sih wajar ya, tapi kalo tiba-tiba Fatin sama Dangdut kan bingung juga ya. Suka, enggaaaak, kepikiran terus, iya.

Lagunya yang minta diputer itu dari Sioen - Cruisin, Tori Amos - Sleep With Butterflies, sampe yang Top 40 juga ada kok: Lorde - Royals.

Anyone, mungkin juga ada yang ngerasa kaya gini juga? : l

Rabu, 12 Februari 2014

Blink!


Beberapa minggu ini lagi ngerasain hal yang berbeda. Sebenernya semuanya baik-baik aja. Pelajaran di kelas oke, ngobrol sama temen-temen juga nyambung, rutinitas sehari-hari pun dilakuin gak ada yang aneh-aneh atau gimana. But there's something missing. Perasaan untuk stay, aware atau hidup di momen itu nggak ada sama sekali. Ngawang. So I have a lot of assumption about how and why I get here. Kalo dibiarin terus, bisa-bisa nggak bakalan selesai dan kejadian kaya gini bakalan mungkin banget buat keulang lagi. 

Karena saat ini tempo yang dimainkan harus cepat, tapi jiwanya justru entah ke mana. 

Lalu dimulai lah pencarian penyebab kenapa bisa begini:

Kondisi badan yang terlalu capek? Nggak juga ah. Udah tidur 8 jam, bangun-bangun masih aja males bangun. Even worse, kelabakan nahan ngantuk di dalem kelas yang instrukturnya adep-adepan muka. 

Lagi kumat malesnya, terus ngeliat bahan pelajaran yang kaya semen tiga roda: pekat, jadi nggak ada tenaga dan pingin tebalikin meja aja? Bi.....sa sih. Tapi kurang kuat alesannya..

Apa lagi ngerasa monoton dan pingin sesuatu yang beda? 

Atau lagi focus in dan nyepelein kata "mendengarkan"? 

Atau justru, terlalu banyak mendengarkan dan manutin semua yang didapet tanpa nanyain apa yang dimau?

Atau mungkin... You're thinking too much?

Dan gue pun memilih opsi terakhir sebagai jawabannya. Mungkin terlalu banyak mikir dan analisa, jadi bikin terlalu fokus sama diri sendiri.

Sampai akhirnya tadi pagi, seperti biasa: Alarm nyala di kedua handphone, yang harusnya bangun jam 04.45 terus di snooze aja terus dua-duanya sampe jam 05.30. Yang nggak biasa, bangun kali ini gue menyadari kalo ternyata setiap pagi gue memutuskan untuk ke luar dari tempat tidur, dengan perasaan grungies - penuh dengan unek-unek. Ngeluh masih ngantuk lah, airnya dingin lah, make-up nggak bisa cepet lah. Dan pagi ini, gue memilih sesuatu yang berbeda. I switched the emotion, and I choose to berdoa setelah bangun tidur. 


اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِى أَحْيَانَا بَعْدَمَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُورُ
alhamdulillahil ladzi ahyana ba’da ma amatana wailaihin nusyur

"Segala puji bagi Allah yang menghidupkan aku kembali setelah mematikan aku dan kepada Allah akan bangkit."

Lalu tau apa yang berbeda dengan memilih untuk mengganti kebiasaan pagi ini? Di kelas jadi seger walau pun tidur baru jam satu pagi, pelajaran juga alhamdulillah lebih cepet masuk, mood seharian juga enaaak banget. Jadi, in case kejadian kaya gini bakal keulang lagi, pertanyaannya mungkin bisa ditambah satu: Mungkin kamu kurang bersyukur, Ban.